Jumat, 10 Januari 2014

Air Terjun Songgo Langit: Aset Jepara

               Asal usul Jepara sebagai kota ukir tentunya familiar bagi telinga masyarakat, tidak hanya masyarakat daerah Jawa Tengah tetapi juga di luar itu. Boleh dikatakan demikian karena kebanyakan masyarakatnya memiliki keterampilan kagunan seni, terutama seni wood carving. Menurut asal-usulnya dikisahkan bahwa Pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat, terdapat seorang patih bernama Sungging Badarduwung yang berasal dari Campa (Kamboja) ternyata seorang ahli memahat pula. Sampai kini hasil karya Patih tersebut masih bisa dilihat di komplek Masjid Kuno dan Makam Ratu Kalinyamat yang dibangun pada abad XVI. Keruntuhan Kerajaan Majapahit telah menyebabkan tersebarnya para ahli dan seniman hindu ke berbagai wilayah paruh pertama abad XVI. Di dalam pengembangannya, seniman-seniman tersebut tetap mengembangkan keahliannya dengan menyesuaikan identitas di daerah baru tersebut sehingga timbulah macam-macam motif kedaerahan seperti : Motif Majapahit, Bali, Mataram, Pajajaran, dan Jepara yang berkembang di Jepara hingga kini.
     

          Keindahan seni wood carving bisa dinikmati sepanjang jalan menuju ke arah pusat kota Jepara, Yakni di Tahunan dan Mulyoharjo. Sepanjang jalan tersebut banyak galeri-galeri yang menjual perabotan kayu. Itulah mengapa pembangunan daerah Jepara secara tidak langsung berkaitan dengan masuknya devisa dari kegiatan ekspor impor bahan baku ukir, baik mentah maupun barang jadi. 

      Itu sepenggal cerita menarik dari Jepara, ada hal lain yang tak boleh ketinggalan untuk dishare kepada pembaca, selain Jepara berada di pesisir pantai utara Jawa yang tentunya memiliki pantai indah seperti Bandengan, Kartini dan meliputi pantai yang terdapat di kepulauan Karimun Jawa. Di Sini juga terdapat air terjun yang tak kalah menariknya. Pertama kali mengunjungi Jepara, tak menduga jika ada objek wisata alam lain selain pantai. Perlu dianalisa terlebih dahulu. Letak Jepara berbatasan dengan Kudus dan Pati di mana ketiga daerah tersebut di paku bumi oleh Gunung Muria. Nah berarti Jepara juga memiliki daerah dataran tinggi. Air terjun indah ini bernama Songgo Langit. Bercerita mengenai nama Songgo Langit, Songggo dalam bahasa Jawa berarti Menyangga dan langit berarti Langit/ angkasa. Mengapa disebut demikian, bisa dimungkinkan karena air terjun yang dipandang dari atas mirip penyangga lurus berwarna putih yang sedang menancap di angkasa.
                           (Air Terjun Songgo langit)

      Air terjun ini mempunyai ketinggian 80 meter dan lebar 2 meter. Di bawahnya terdapat kolam penampungan air yang mencapai kedalaman 3 meter yang dapat digunakan untuk mandi atau berenang. Letaknya sendiri berada di Desa Ngelencer, Bucu, Kembang  Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah. Jarak tempuh dari alun-alun Jepara kurang lebih 1,5 jam. Jika memiliki hobby touring dan adventure tentunya bisa pergi memakai kendaraan roda dua, tapi tak perlu khawatir kendaraan mini bus juga bisa masuk ke area air terjun tersebut. Infrastruktur jalan menuju lokasi sudah tergolong tipe 2, beraspal selebar 2-3 meter.

      Sekedar Informasi tiket masuk tergolong sangat murah, 1.500IDR di hari biasa dan 2000IDR di hari libur.
           Menurut kepercayaan air yang ada di air terjun tersebut bisa membuat awet muda. Tapi sebaiknya sebagai orang yang memiliki latar belakang keilmuan, tentunya ada benarnya juga alasan tersebut, karena air terjun tersebut emiliki temperatur dingin karena berada di kaki Gunung Muria. Air dingin bermanfaat untuk kelembapan kulit, air dingin juga dapat menstimulasi otot-otot yang kaku dan mengecilkan pori-pori. Tapi tidak ada korelasi orang yang hidup di hawa dingin bisa hidup lebih lama dibandingkan dengan orang yang hidup di daerah panas. Itu Ga bener ya kawan!
      Tapi sebaiknya di manapun berekreasi tetap waspada untuk tetap berhati-hati, jangan sampai euforia manikmati liburan sia-sia karena kecerobohan diri sendiri. Bendungan bawah di Air terjun Songgo Langit memiliki kedalaman 3 meter malah mungkin bisa mencapai 5 meter jika intensitas air yang mengalir semakin deras sehingga dapat menggerus lapisan tanah didalamnya. Berdasarkan pemberitan di Kompas (1/1/2013) tepat di tahun baru Air Terjun Songgo Langit telah menelan korban jiwa. Seorang wisatawan Sugianto (26) warga Kudus menghilang ketika berenang di bawah air terjun. 
      Hmm, ada beberapa koreksian mengenai tempat wisata tersebut. Jika ingin mandi di sekitar air terjun sebaiknya berhati-hati karena banyak batu-batuan yang masih tajam serta berlumut, ditambah sampah sisa makanan ringan yang kadang berserakan diarea parkir. Hal ini menunjukkan bahwa kurangnya kesadaran masyarakat terutama pengunjung yang masih kurang bertanggung jawab dalam menjaga kebersihan. Kamar mandi yang kotor, air yang tidak mengalir serta rusaknya pintu kamar mandi menjadikan tak sedap dipandang mata. Berharap Perda Nomor 20 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Ketertiban, Kebersihan, dan Keindahan (K3) di Kabupaten Jepara dapat terlaksana secara maksimal.
      Tentu baiknya ada bekerja sama dengan pihak swasta dan pemerintah dalam mengembangkan tepat wisata. Sebagai cerminan atau contoh pembangunan infrastruktur mengenai track jalan kaki dan penataan gazebo di Pantai Bandengan yang terbengkalai dan tak sesuai dengan fungsinya, ditambah tak adanya pengendalian atau upaya pencegahan abrasi pantai membuat jarak antara jalan dan bibir pantai semakin dekat. 
      Demikian potret yang dapat dijadikan referensi mengenai Trus Karya Tataning Bumi, semoga sesuai dengan harapan untuk berkarya membangun Bumi Jepara agar semakin baik.

Rabu, 27 November 2013

Memburu Emas di Masa Kecil

MEMBURU EMAS DI MASA KECIL

Coba ingat-ingat lagi masa kecil kalian? Kenapa kalian punya masa kecil? Kayaknya Itu pertanyaan yang konyol dan bego. Jawabnya ya iyalah punya, emang lahir langsung keluar gigi apa? Hadehhh mulai ga konsen ini... (mencoba tetep fokus agar tulisanku ga berantakan) Yang pastinya akan berantakan kalo aku mulai melayang mikirin administrasi penilaian scentifik tugas kantor dan membayangkan hal-hal yang engga-engga tentang Hyun Bin. Hyun Bin datang mengedipkan mata lalu ambil kursi, duduk di depan sambil nungguin aku nyelesein tugas kantor hahaha... (Pastinya Hyun Bin bisa keselek-selek sambil bilang “Kenapa namaku disebut-sebut dalam blog ini? Siapa sih penulisnya? Cepat cari tau, akan kujadikan pacar dunia akhiratku!” Dengan segera manager dan assistantnya kebirit-birit nyariin aku, drama queennya kaya cinderella hahaha.... (Haduh Pliss tarik nafas dalam-dalam, tetep behaviour, inerbeauty and smart, hilangkan segala sesuatu tentang Hyun Bin, lagian percuma juga menghayal tentang tuh orang. Tau masalahnya?? Bener kalian ga tau?? Alasannya adalah karena aku tau dia, tapi dia ga kenal aku, wweeeek jadi mules perut nih)
            Jadi gini nih, sebetulnya bukan itu yang pengen aku share, walaupun sebetulnya aku pengen banget nge-share diriku ke Hyun Bin (garuk-garuk hidung, kenapa yang muncul Hyun Bin) Ini ga bisa dibiarin. (Singkat cerita, untuk memfokuskan tulisanku, sekarang koneksi hotspot dimatiin dulu, tulis di word, trus tinggal copy di dasbor... biar kagak browsing tentang Hyun Bin dan kawan-kawannya itu, preketek lah) Stoppppp! Fokus!

            Kalian pasti punya kenang-kenangan masa kecilkan? Gimana? Bahagia ga? Ato ga sama sekali bahagia? Mungkin kalian ada yang level kenakalannya rendah, sedang, tinggi, ato akut? (ibaratnya kayak kripik maichi gitu lah). Sebetulnya masa kecil itu rentan terhadap perubahan, masa-masa transisi gitu. Usia-usia TK sampe SD lah ya spesifikasinya. So, singkat cerita, walaupun kayaknya ga bisa singkat tulisanku, alamak... Dulu waktu TK pasti pernah ngrasain yang namanya bolo-bolonan (Alahhh yang lagunya Mbak Tina Toon itu loh!!)
Mama bolo bolo,
Papa bolo-bolo,
Nenek bolo-bolo
Kakek bolo-bolo
Semua bolo....
Bolo dalam bahasa jawa itu teman. Eits kalo berteman gaya anak kecil polos loh ya, kadang mereka pilih-pilih teman. Ada anak kecil yang ga suka sama temennya karena kenakalan, trus tiba-tiba bilang “Jangan main sama si A, dia nakal loh, aku aja habis dipukul sakit nih!” ato ada yang bilang gini nih:

Si A: “Eh aku boleh minta jajanmu ya?” Kemudian dengan polosnya Si B diem aja, Si A langsung comot aja.
Pada suatu hari, si B main comot jajan si A. Si A kagak terima. Kemudian Si A nyeletuk:
Si A: “Ih, dasar tukang minta. Kamu ga boleh gitu, akukan belum bilang boleh atau engga.” Trus si A curhat sama gurunya alias ngadu, seakan-akan barangnya dicuri. Si Guru trus menasehati si B, padahal belum merekap ulang kronologisnya apa.
Nah coba ilustrasi dialog tadi dianalisis deh... Anak kecil itu ga sepenuhnya polos, tapi mereka itu cerdas. Tapi sayangnya kecerdasan mereka itu didasari dari sikap yang polos. Harus ada korelasi tingkat kecerdasan dengan sikap ya kawan. Cerdas aja ga cukup kalo sikapnya ga mendukung. Coba deh kalian pahami, kalo kalian punya sikap kayak si A sampe dewasa dan ga ada perubahannya, berarti kalian ga belajar dari pengalaman masa kecil,, hayo sadar deh siapa yang pernah kayak gitu? Jadi jangan marah kalo kamu punya sikap kayak Si A terus dibalas ketika kamu dewasa nanti.
Jadi, misal ketika kamu remaja/ dewasa trus kamu punya pacar yang cantik atau ganteng, kemudian temen kamu ngomong pengen juga punya pacar yang sama ganteng atau cantiknya kayak pacar kamu, tiba-tiba kamu hanya diam aja ga ngrespon ucapan temen kamu tadi. Tanpa kamu sadari lama-kelamaan temen kamu nyomot pacar kamu. Trus kamu marah-marah ujungnya dan ngadu sana sini sambil kowar-kowar ga terima pacar kamu direbut sama temen kamu. Hahahaha.... ada kan yang kayak gitu???
            Nah, intinya sikap ketika kecil itu jadikan pelajaran, jika ketika kecil tidak diajarkan tentang kebaikan atau mengerti tentang kesalahan yang harus diluruskan, ketika dewasa mereka taunya akan selalu benar alias seolah-olah yang benar itu cuma dia seorang. Padahal itu sepele, yaitu main ambil/ comot/ korupsi dan ngadu.
            Pilih-pilih teman kayak anak TK harus diimplementasikan ketika dewasa juga lhoh ya, jangan asal-asal, teman tentunya orang yang bisa memberi nilai positif ke kita. Jadi, kalo ada yang diculik karena kenal di fb ato twitter itu salah siapa? Trus kena narkoba karena ikut-ikutan teman itu salah siapa? Coba belajar dari anak kecil, jangan hanya menyalahkan orang tua saja, tapi sejauh mana diri kita untuk memotivasi diri sendiri agar membentengi secara internal.
            Waktu di SD pasti pernah bikin onar di kelas, kalo engga ngobrol sama temennya pas pelajaran, ada juga klotekan pake sapu, trus lupa ga ngerjain PR, berkelahi sama temen, bahkan ejek-ejekan sampe ada yang nangis. Hehehe... Sedikit curhat tentang pengalaman aku, dulu aku bandel banget, suka berantem sama temen cowok, ga tanggung-tanggung 4 orang temen cowok aku ladenin, masalahnya sepele cuma ngejek doank!! Mereka ngejek rambut aku keriting sambil klotekan dibelakang kelas trus dibuat lagu, ya jelas aja kuping aku panas, trus aku ambil sapu, aku sabetin ke mereka, tanpa ampun aku pukul sampe membabi buta, hahaha.... nangis deh mereka (waktu itu aku ga merasa bersalah). Alhasil orang tuaku dipanggil Guru Kelas, otomatis bapak langsung meluncur kayak prosotan dari kantornya datang ke sekolah, bapak sih ga serta merta nyalahin aku, malah yang menyudutkan aku guru kelasku sendiri. Masi Ingat pebicaraan guru kelas dan bapak begini:
Guru kelas: “Anak bapak ini susah diatur, nakal! Bapak mendidiknya bagaimana?”
Bapak         : “Anak saya masih SD Bu, itu hanya sapu yang dipukulkan bukan batu atau 
                       pisau, karena anak saya tidak saya perbolehkan membawa pisau di
                       sekolah, pasti mereka berempat mati.”
Guru Kelas: “Itu namanya kriminal, Pak.”
Bapak         : “Anak saya masih SD, Bu. Ibu pernah disakiti? Pernah membela diri?”
Guru Kelas: “Tapi anak bapak tetap salah! (si Ibu ngotot)
Bapak      : “Anak saya memang salah, Bu. Tapi coba kronologisnya ditelaah, mengejek itu mengenai psikologis, Bu. Bukan fisik. Fisik bisa diobati, tapi dampak psikis itu susah mengobatinya.”
Trus bla-bla-bla panjang kali lebar kali tinggi sama dengan volume, tiba-tiba aku diajak pulang, sampai di rumah Bapak nyopot sabuk copel di seragamnya, melayanglah sabuk copel ditubuhku sampe beset-beset dan nangis sejadi-jadinya.
Bapak  : “Kalo dipukul sakit ga, tau salah kamu apa?”
Aku     : “Ampun, Pak. Sakit” Nangis sejadi-jadinya sambil koser-koser diubin.
Bapak  : “Kalo tau dipukul itu sakit, jangan memukul. Kalo temanmu ngejek, balaslah dengan mengejek. Itulah yang dinamakan seimbang!”
            Maksud dari cerita itu adalah setiap anak diajarkan untuk memahami kesalahan mereka dengan tidak menyudutkan. Bagaimana mereka tau kesalahan dan membenarkannya jika tidak ada pelajaran tentang hakekat kehidupan. Setiap kehidupan pasti ada tindak lanjut dan assesmentnya. Apa yang menanam pasti akan mengunduh buahnya. Sikap untuk menanamkan pola kedisiplinan, kesopanan, tanggung jawab itu dimulai sejak dini. Mungkin juga dulu para koruptor, pelaku kriminal juga diajarkan tentang agama, kedisiplinan, kesopanan, tanggung jawab sama orang tuanya, tapi lingkunganlah yang menjadikan mereka itu lupa seberapa berjasanya orang tua mereka, ibaratnya dikalahkan dengan keadaan.
            Masa kecil itu, ibarat mengisi kekosongan untuk mencapai ketaraf selanjutnya agar penuh dengan pengalaman. Bermain bakiak, bentikan, balembat, seleduran, petak umpet, rembetan, boneka-bonekaan, pasaran, sepedanan, ciblon di kali, lompat tali, semua itu sosialisasi agar memahami bahwa manusia itu makhluk sosial, yang mebutuhkan kerja sama, penghormatan, kewibawaan, pengakuan. Jadi, jangan salahkan kalo jaman sekarang orang lebih cenderung egoist karena banyak banget generasi milenium terlena dengan bb, facebook, playstation, dvd, saking asiknya sampe kepala nunduk saat diajak ngomong. Hadeeeh parah banget, apa nunggu Kang Deddy Cobuzier sambil bilang, “Tatap Mata Saya” apanya yang perlu ditatap, orang eyeshadownya aja blepotan sampe alis (Red-sebelum make over ya Kang Deddy, jangan marah lho ya... pisss).
            Sewaktu di TK atau SD pasti pernah berkhayalkan teman? Hahaha.... kalo berkhayal kayaknya aku jagonya, karena sering boongnya, cerita yang ga nyambung tapi disambung-sambungin kayak benang ruwet, tapi yang diajak cerita antusias banget, pengen ngerti endingnya,,,
            Hal yang paling aneh dan yang nyebelin itu ketika bapak ato ibu guru tanya, “Besok kalau sudah besar mau jadi apa ya anak-anak?” kalo anak yang tanggap pasti jawabnya “Jadi orang Bu/Bapak, masak iya mau jadi kingkong, kan ga mungkin bisa operasi plastik jadi Mr. Kong, yang ada operasi jelek jadi cantik kayak artis-artis korea, berhubung di Indonesia peralatannya belum canggih, sampe film Kingkong uda beredar duluan, huh gagal casting deh, padahal Kingkong kan tokoh utamanya Bu/ Pak, nyesek ga tuh?” (eits itu namanya murid ngawur, ga mungkin juga anak SD ngomong begitu, yang ngawur justru yang nulis blog ini, masalahnya ga ada Aa’ Hyun Bin yang nongol buat nemenin nulis Blog, Hwa hwa hwa) Haduuuhhh Konsentrasi!!!!
            Anak-anak ada yang jawab, jadi astronot, jadi pilot, jadi polisi, jadi dokter, jadi pramugari, jadi tentara, jadi guru, jadi presiden, jadi pengusaha, jadi apoteker, dan sebagainya yang berkaitan dengan pekerjaan mulia. Tapi, ya itu tadi ujung-ujungnya Bapak/ Ibu Guru bilang, “Jika kalian mau jadi seperti itu, belajarlah yang rajin untuk mewujudkan cita-cita kalian.”
            Kadang sempat berpikir, apa anak-anak harus dihadapkan dengan pertanyaan mau jadi apa kamu besok? Atau cita-cita kamu besok apa?
            Kayaknya sampe aku dewasa belum pernah orang tua yang menanyakan hal seperti ini “Nak, kamu pernah bermimpi ke Papua? Di sana ada ladang emas lo? Tapi syaratnya kamu harus belajar ilmu pengetahuan dan agama dengan sungguh-sungguh biar bisa mengelola ladang itu dan hasilnya dibagi dengan bijaksana. Di sana juga ada laut yang bersih, pulau-pulau seperti surga” (Si Ibu menunjukkan gambar peta Indonesia lengkap dengan kekayaan alam dan keindahan alam Papua). “Apa kamu mau ke sana? Tapi ke sana itu jauh? Sejauh kamu menggapai cita-citamu kelak, carilah cita-cita yang cocok untukmu, sesuai kata hatimu, tetapkan mau jadi apa kamu kelak jika kamu dewasa dengan usaha. Jangan menyesal dikemudian hari. Pergilah mencari pengalaman sejauh yang kau mampu walaupun ke Papua sekalipun atau ke luar negeri, jangan membayangkan jadi presiden itu enak, jadi dokter itu enak, jadi guru itu enak, dan jadi apapun itu enak, tapi bayangkan jadi presidenpun ada tidak enaknya, tuh nyatanya didemo trus-terusan, kabinetnya ada yang korupsi, dilema, presiden juga bisa galau lho, Nak.”

            Kayaknya kalo ngomongin Kelakuan di TK atau di SD itu ga ada habisnya. Yang diingat jangan hanya masa puber di SMP dan SMA aja loh ya,,,, hehehehe.... tapi pembelajaran dimana kita mengenal sekolah itu di TK... namanya juga bermain sambil belajar. Seengganya kita harus ingat tentang filosofi kehidupan, jangan melupakan pengalaman yang dibilang sepele, tapi kenalilah sejak dini apa yang telah kita lakukan untuk diperbaiki dikemudian hari sebagai tolak ukur seberapa besar pengaruh kehidupan menyelami diri kita sebagai insan Tuhan yang hakiki.


Selasa, 29 Oktober 2013

He Is (New) My "Mas Bro"

He Is (New) My “Mas Bro”


            Kami tak sempat mengingat tanggal, bulan bahkan tahun untuk dicatat dalam memori ketika Mas Bro pertama kali datang. Kami juga tak berpikir untuk memberi sambutan selamat datang, bahkan tak sampai menyiapkan segala sesuatunya untuk kehadiran seseorang. Dan akhirnya, tiba-tiba kami memiliki anggota baru di keluarga ini....

        (Perlu diingat kalo kita pernah foto ini, karena Mas Bro mempelajari teknik penjualan, gaya mu dulu jadul banget ya, kami tidak berdua lagi tapi berubah menjadi bertiga)

Entah pagi buta, pagi menjelang siang, siang menjelang sore, sore menjelang malam atau malam menjelang pagi, ku rasa tak ada yang benar-benar mengingat waktu dengan tepat kapan Mas Bro datang ke rumah mungil kami. Padahal aku masih menyebutkan waktu berupa siklus satu hari, bukan lagi jam, menit, dan detik dalam sehari. Pada intinya kala itu, aku tak punya bayangan mengapa orang ini mau tinggal bersama kami di rumah yang sempit berisikan empat orang. Rumah yang menurut sebagian orang tidak membuat nyaman, masih kurang ini itu, tidurpun susah mau tidur di mana, lingkungan yang keras sekeras tank-tank dan terompet apel pasukan yang silih berganti dibunyikan tiap pagi buta, keadaan yang serba sederhana dan kurang fasilitas. Mungkin akan ku tanyakan alasan si Mas Bro setelah aku menyelesaikan tulisan-tulisan ku ini he he he he....
Ups... tidak tidak tidak, aku harus berusaha mengingatnya, harus! Demi kebaikannya ha ha ha...
***FlashBack***
Kala itu, Mas Bro datang hanya untuk menginap satu atau dua hari saja karena mengikuti test Ujian Masuk di Undip, berhubung Mas Bro jauh rumahnya yaitu di Kota Ukir sana dan kami masih punya hubungan keluarga, jadi pintu rumah kami selalu terbuka. Kala itu, sejujurnya aku cuek sekali, ngomong seperlunya saja, karena saat berjumpa di Kota Ukir pun tidak begitu akrab, (Mas Bro pernah membahas – “sejak kapan kita bisa akrab, padahal dulu ga pernah main bareng waktu di Kota Ukir walaupun kita saudara?” Jawabku plonga plongo sambil ngakak).
Sebabnya aku cuek karena jarang di rumah, sibuk keluar masuk gubuk dengan urusan kuliah, pulang malam ada kegiatan Permadani, membuat tugas ini itu di sana sini, main ke kost teman hingga ber jam-jam, dll. (Trus pada intinya, tidak ada yang tau sejak kapan aku dan Adek Depe bisa akrab sama Mas Bro ini, ibarat seperti Kakak tapi juga menjadi teman bagi kami berdua). Setelah Mas Bro diterima dengan pintu terbuka di Undip jurusan Teknik Industri, hijrahlah Mas Bro ke Kota Lunpia. Lalu Mas Bro menginap lagi di rumah kami hanya beberapa hari hingga dia mendapatkan tempat kost yang cocok. Bapak juga sempat mencarikannya, tapi karena Mas Bro cekatan jadi dia langsung dapat tanpa dikomando lagi. Beberapa semester Mas Bro jadi anak kostnya Tembalang, Semarang, Jawa Tengah. Trus kami juga pernah berkunjung di tempat kosnya itu. Beruntungnya dia punya ibu kost yang baik banget (apa kabar kostnya sekarang ya.....? Harusnya dia kalau lulus kuliah disempet-sempetin ke sana biar tidak durhaka sama sejarahnya, gitu Mas Bro saraaan... aku he he he)
Seabrek kegiatan mahasiswa teknik, ibarat satu hari tidak cukup buat mereka di semester-semester awal. Akhirnya Mas Bro beralih jadi anak kontrakan bersama sahabat-sahabatnya, entah di mana kontrakan itu sampai detik ini aku tidak tahu. Di penghujung semester tiga, Mas Bro sering main ke rumah karena tanteku yang gaul, tersayang, baik hati dan tidak sombong mau nikahan ditambah lagi Mas Bro mau nitip cucian, karena air dikontrakannya sering tidak mengalir. Tiba-tiba dia dapat wangsit dari mana asalnya untuk memutuskan pindah ke rumah kami, semua barang-barang dibawanya. Welcome to Mas Bro.

***Intisari Sebuah Keluarga***
Mungkin kita tidak pernah mengira, seseorang yang memang saudara dan kurang akrab bisa menjadi real keluarga, kakak, sahabat atau teman. Lambat laun, dengan sering bercanda, main bersama, sharing dikala susah dengan tugas-tugas dan masalah dengan teman-teman di luar sana, menjadikan momen yang biasa menjadi luar biasa, inilah yang disebut “keluarga”. Beruntung Mas Bro mau tinggal bersama kami. Kami tidak lagi berempat lagi, tapi sekarang berganti jumlah menjadi berlima. Mas Bro bisa menerima keluarga kami yang kadang kala aneh, ibu yang gaul, bapak yang berwajah sangar, adek Depe yang kadang marah-marah tidak jelas ha ha ha... piss, dll.

Aku pernah mendengar paribasan Jawa yang menyebutkan “Cedhak mambu tai, adoh mambu wangi”, paribasan itu mengandung arti bahwa seseorang yang masih ada hubungan keluarga, jika tempat tinggalnya berdekatan dengan saudara lain dapat menjadikan perselisihan kecil yang nantinya bisa membesar karena mereka tahu semua tingkah laku dan pemikiran yang dianggap kurang baik menurut saudara yang lain disebabkan seringnya bertemu, tetapi jika tempat tinggalnya jauh terkesan berbau harum karena ada rasa kangen yang disebabkan jarang bertemu.
Walaupun paribasan Jawa berkata demikian, tapi dengan adanya Mas Bro kami bisa membuktikan bahwa hal itu tidak selamanya benar. Tergantung dari sudut pandang kita dalam menyikapinya. Pada kenyataannya Mas Bro bisa diterima di keluarga kami dan Mas Bro mendapatkan kasih sayang yang sama dari orang tua kami. Ada hal-hal kecil yang kadang sepele tapi sering dilupakan yaitu bercanda dengan keluarga. Bercanda sering dikaitkan dengan sikap kurang menghormati. Jangan pernah menganggap bahwa bercanda merupakan perbuatan yang tidak menghormati yang orang lebih tua. Bercanda dalam keluarga itu perlu tanpa harus mengubah kaidah sopan santun, bercanda dengan etika, dalam kenyataanya bercanda di keluarga dapat menambah keharmonisan. Setujukan??
            Istana yang megah tanpa adanya kasih sayang, perhatian, komunikasi dan gurauan tidak akan memberikan kenyamanan. Manusia diciptakan salah satu tujuannya agar menjaga silaturrahim, karenanya disebut makhluk sosial yang saling membutuhkan dengan yang lain. Seseorang yang dianggap saudara kadang terasa jauh, sedangkan seseorang yang dianggap orang lain terasa dekat “Dudu sanak dudu kadhang yen mati melu kelangan”. Keluarga merupakan cerminan seseorang untuk bangkit dalam menerjemahkan kehidupan, keluarga merupakan miniatur pribadi seseorang. Di sinilah kita dibentuk, siapa kita, bagaimana kita, yang pada akhirnya mengarah ke menjadi apa kita nanti.
Keluarga bisa dikatakan gudangnya informasi, mengapa demikian? Iya karena disitulah kita bisa melakukan sharing, mengutarakan isi hati dalam bentuk lisan. Beruntung jika keluarga dapat memberikan wadah bagi anggotanya untuk berpendapat, dan pada kenyataannya sistem demokrasi dapat diimplementasikan di keluarga. Keluarga dalam istilah Jawa disebut “kulawarga” diartikan wargaku atau keluargaku, “ku” merupakan kata pengganti orang pertama yang menyatakan milik.
            Jadi, jagalah hubungan kekeluargaan sampai akhir hayat kita, tanpa adanya keluarga kita tidak bisa lahir di dunia ini. Yang pada mulanya hanya ayah dan ibu, kemudian berkembang menjadi satu keluarga utuh dengan putra dan putri disisi mereka. Jikalau kondisi yang menyebabkan keluarga tercerai berai, tapi dengan adanya diri kalian satukan dalam wujud silaturrahim nantinya.
***Thank you for Mas Bro***
            Hadirnya Mas Bro di keluarga ini banyak hal yang sudah dilalui, rumah kami menjadi ramai, intensitas bercanda semakin menjadi-jadi hampir mirip anak-anak Paud. Kata-kata lebay yang terlontar dari benakmu, seperti: Alay Pict, Bici, Chibi, Keong racun, Jupe, Depe yang menambah keakraban itu lah canda. Buku-buku yang kadang kala pengen dibeli, sok-sokan sudah dibeli dan entah kapan dibacanya disimpan buat celengan bikin perpustakaan pribadi, nyicil bikin stempel dululah (eh sudah ya....?). 

            Tidak terasa hampir tiga tahun Mas Bro tinggal sama kami, tanggal 26 Oktober 2013 kemarin sudah wisuda, dan pada akhirnya tidak lagi tinggal di rumah kami. Tapi, kami akan selalu welcome!
            Dulu keluarga kami mendambakan lahirnya anak laki-laki, sekarang sudah terwujud, tiba-tiba Mas Bro datang tak dijemput, pulang tak diantar. Dulu aku pengen punya kakak laki-laki sekarang sudah terwujud, malah tidak perlu repot-repot ibu melahirkan lagi ternyata sudah dikasih langsung yang besar. Tuhan memang hebat!!!
            Jangan lupakan sejarah (Sehari Jadi Parah). Tiap aku pulang ke Semarang, jadi parah gaya bercandaku gara-gara timbal balik dari Mas Bro. Karena suntuknya bekerja di Jepara, membuat topik bercanda semakin menjadi-jadi. Itulah beruntungnya punya Mas Bro yang satu visi dan misi denganku tampil awet muda. Tiap buka kulkas nyari jelly dingin buatan ibu yang nyeessss itu, terus minta disuapin dengan syarat naik sepeda mungilnya Fadil sambil sorak-sorak. Akhirnya, kamu mau makan racun di rumah kami, bukan racun tikus atau racun serangga, tapi racun cabe. Karena keluarga kami suka makanan pedas, dan ternyata Mas Bro ketagihan oseng-oseng genjer (baru dengar dari ibu).
            Terima kasih aku ucapkan khusus buat Mas Bro, berhubung Mas Bro sudah wisuda lalu nantinya akan sibuk bekerja serta tidak lagi tinggal bersama kami. Kami berharap Mas Bro tetep pada visi misinya tampil awet muda. Pasti rumah kami akan sepi dan sampai saat ini kami belum menemukan pengganti Mas Bro. Terima kasih sudah berperan menjadi saudara, kakak, om, sahabat bagi kami. Maaf jika keluarga kami ada salah lisan maupun tulisan. Kalau kesalahan tulisan sepertinya aku yang sering kena, karena sudah meng-upload di blog pribadiku tanpa ijin dulu. Tapi aku kira tidak masalah, karena Mas Bro hobby ngeksis di social network yang beraneka ragam, seperti facebook, twitter, whatsapp, blog, yahoo messenger, gmail, dll.

**Aku terbangun pukul 01.13 WIB dan setelah menunaikan sholat tahajud tiba-tiba aku ingin menulis sesuatu. Jika ada salah ketik mohon dimaafkan , tapi sepertinya aku tidak sedang mengelindur walaupun kondisi mataku terbuka ¾ tanpa kaca mata. Aku tulis ke word sebelum di upload pada blog**