Selasa, 29 Oktober 2013

He Is (New) My "Mas Bro"

He Is (New) My “Mas Bro”


            Kami tak sempat mengingat tanggal, bulan bahkan tahun untuk dicatat dalam memori ketika Mas Bro pertama kali datang. Kami juga tak berpikir untuk memberi sambutan selamat datang, bahkan tak sampai menyiapkan segala sesuatunya untuk kehadiran seseorang. Dan akhirnya, tiba-tiba kami memiliki anggota baru di keluarga ini....

        (Perlu diingat kalo kita pernah foto ini, karena Mas Bro mempelajari teknik penjualan, gaya mu dulu jadul banget ya, kami tidak berdua lagi tapi berubah menjadi bertiga)

Entah pagi buta, pagi menjelang siang, siang menjelang sore, sore menjelang malam atau malam menjelang pagi, ku rasa tak ada yang benar-benar mengingat waktu dengan tepat kapan Mas Bro datang ke rumah mungil kami. Padahal aku masih menyebutkan waktu berupa siklus satu hari, bukan lagi jam, menit, dan detik dalam sehari. Pada intinya kala itu, aku tak punya bayangan mengapa orang ini mau tinggal bersama kami di rumah yang sempit berisikan empat orang. Rumah yang menurut sebagian orang tidak membuat nyaman, masih kurang ini itu, tidurpun susah mau tidur di mana, lingkungan yang keras sekeras tank-tank dan terompet apel pasukan yang silih berganti dibunyikan tiap pagi buta, keadaan yang serba sederhana dan kurang fasilitas. Mungkin akan ku tanyakan alasan si Mas Bro setelah aku menyelesaikan tulisan-tulisan ku ini he he he he....
Ups... tidak tidak tidak, aku harus berusaha mengingatnya, harus! Demi kebaikannya ha ha ha...
***FlashBack***
Kala itu, Mas Bro datang hanya untuk menginap satu atau dua hari saja karena mengikuti test Ujian Masuk di Undip, berhubung Mas Bro jauh rumahnya yaitu di Kota Ukir sana dan kami masih punya hubungan keluarga, jadi pintu rumah kami selalu terbuka. Kala itu, sejujurnya aku cuek sekali, ngomong seperlunya saja, karena saat berjumpa di Kota Ukir pun tidak begitu akrab, (Mas Bro pernah membahas – “sejak kapan kita bisa akrab, padahal dulu ga pernah main bareng waktu di Kota Ukir walaupun kita saudara?” Jawabku plonga plongo sambil ngakak).
Sebabnya aku cuek karena jarang di rumah, sibuk keluar masuk gubuk dengan urusan kuliah, pulang malam ada kegiatan Permadani, membuat tugas ini itu di sana sini, main ke kost teman hingga ber jam-jam, dll. (Trus pada intinya, tidak ada yang tau sejak kapan aku dan Adek Depe bisa akrab sama Mas Bro ini, ibarat seperti Kakak tapi juga menjadi teman bagi kami berdua). Setelah Mas Bro diterima dengan pintu terbuka di Undip jurusan Teknik Industri, hijrahlah Mas Bro ke Kota Lunpia. Lalu Mas Bro menginap lagi di rumah kami hanya beberapa hari hingga dia mendapatkan tempat kost yang cocok. Bapak juga sempat mencarikannya, tapi karena Mas Bro cekatan jadi dia langsung dapat tanpa dikomando lagi. Beberapa semester Mas Bro jadi anak kostnya Tembalang, Semarang, Jawa Tengah. Trus kami juga pernah berkunjung di tempat kosnya itu. Beruntungnya dia punya ibu kost yang baik banget (apa kabar kostnya sekarang ya.....? Harusnya dia kalau lulus kuliah disempet-sempetin ke sana biar tidak durhaka sama sejarahnya, gitu Mas Bro saraaan... aku he he he)
Seabrek kegiatan mahasiswa teknik, ibarat satu hari tidak cukup buat mereka di semester-semester awal. Akhirnya Mas Bro beralih jadi anak kontrakan bersama sahabat-sahabatnya, entah di mana kontrakan itu sampai detik ini aku tidak tahu. Di penghujung semester tiga, Mas Bro sering main ke rumah karena tanteku yang gaul, tersayang, baik hati dan tidak sombong mau nikahan ditambah lagi Mas Bro mau nitip cucian, karena air dikontrakannya sering tidak mengalir. Tiba-tiba dia dapat wangsit dari mana asalnya untuk memutuskan pindah ke rumah kami, semua barang-barang dibawanya. Welcome to Mas Bro.

***Intisari Sebuah Keluarga***
Mungkin kita tidak pernah mengira, seseorang yang memang saudara dan kurang akrab bisa menjadi real keluarga, kakak, sahabat atau teman. Lambat laun, dengan sering bercanda, main bersama, sharing dikala susah dengan tugas-tugas dan masalah dengan teman-teman di luar sana, menjadikan momen yang biasa menjadi luar biasa, inilah yang disebut “keluarga”. Beruntung Mas Bro mau tinggal bersama kami. Kami tidak lagi berempat lagi, tapi sekarang berganti jumlah menjadi berlima. Mas Bro bisa menerima keluarga kami yang kadang kala aneh, ibu yang gaul, bapak yang berwajah sangar, adek Depe yang kadang marah-marah tidak jelas ha ha ha... piss, dll.

Aku pernah mendengar paribasan Jawa yang menyebutkan “Cedhak mambu tai, adoh mambu wangi”, paribasan itu mengandung arti bahwa seseorang yang masih ada hubungan keluarga, jika tempat tinggalnya berdekatan dengan saudara lain dapat menjadikan perselisihan kecil yang nantinya bisa membesar karena mereka tahu semua tingkah laku dan pemikiran yang dianggap kurang baik menurut saudara yang lain disebabkan seringnya bertemu, tetapi jika tempat tinggalnya jauh terkesan berbau harum karena ada rasa kangen yang disebabkan jarang bertemu.
Walaupun paribasan Jawa berkata demikian, tapi dengan adanya Mas Bro kami bisa membuktikan bahwa hal itu tidak selamanya benar. Tergantung dari sudut pandang kita dalam menyikapinya. Pada kenyataannya Mas Bro bisa diterima di keluarga kami dan Mas Bro mendapatkan kasih sayang yang sama dari orang tua kami. Ada hal-hal kecil yang kadang sepele tapi sering dilupakan yaitu bercanda dengan keluarga. Bercanda sering dikaitkan dengan sikap kurang menghormati. Jangan pernah menganggap bahwa bercanda merupakan perbuatan yang tidak menghormati yang orang lebih tua. Bercanda dalam keluarga itu perlu tanpa harus mengubah kaidah sopan santun, bercanda dengan etika, dalam kenyataanya bercanda di keluarga dapat menambah keharmonisan. Setujukan??
            Istana yang megah tanpa adanya kasih sayang, perhatian, komunikasi dan gurauan tidak akan memberikan kenyamanan. Manusia diciptakan salah satu tujuannya agar menjaga silaturrahim, karenanya disebut makhluk sosial yang saling membutuhkan dengan yang lain. Seseorang yang dianggap saudara kadang terasa jauh, sedangkan seseorang yang dianggap orang lain terasa dekat “Dudu sanak dudu kadhang yen mati melu kelangan”. Keluarga merupakan cerminan seseorang untuk bangkit dalam menerjemahkan kehidupan, keluarga merupakan miniatur pribadi seseorang. Di sinilah kita dibentuk, siapa kita, bagaimana kita, yang pada akhirnya mengarah ke menjadi apa kita nanti.
Keluarga bisa dikatakan gudangnya informasi, mengapa demikian? Iya karena disitulah kita bisa melakukan sharing, mengutarakan isi hati dalam bentuk lisan. Beruntung jika keluarga dapat memberikan wadah bagi anggotanya untuk berpendapat, dan pada kenyataannya sistem demokrasi dapat diimplementasikan di keluarga. Keluarga dalam istilah Jawa disebut “kulawarga” diartikan wargaku atau keluargaku, “ku” merupakan kata pengganti orang pertama yang menyatakan milik.
            Jadi, jagalah hubungan kekeluargaan sampai akhir hayat kita, tanpa adanya keluarga kita tidak bisa lahir di dunia ini. Yang pada mulanya hanya ayah dan ibu, kemudian berkembang menjadi satu keluarga utuh dengan putra dan putri disisi mereka. Jikalau kondisi yang menyebabkan keluarga tercerai berai, tapi dengan adanya diri kalian satukan dalam wujud silaturrahim nantinya.
***Thank you for Mas Bro***
            Hadirnya Mas Bro di keluarga ini banyak hal yang sudah dilalui, rumah kami menjadi ramai, intensitas bercanda semakin menjadi-jadi hampir mirip anak-anak Paud. Kata-kata lebay yang terlontar dari benakmu, seperti: Alay Pict, Bici, Chibi, Keong racun, Jupe, Depe yang menambah keakraban itu lah canda. Buku-buku yang kadang kala pengen dibeli, sok-sokan sudah dibeli dan entah kapan dibacanya disimpan buat celengan bikin perpustakaan pribadi, nyicil bikin stempel dululah (eh sudah ya....?). 

            Tidak terasa hampir tiga tahun Mas Bro tinggal sama kami, tanggal 26 Oktober 2013 kemarin sudah wisuda, dan pada akhirnya tidak lagi tinggal di rumah kami. Tapi, kami akan selalu welcome!
            Dulu keluarga kami mendambakan lahirnya anak laki-laki, sekarang sudah terwujud, tiba-tiba Mas Bro datang tak dijemput, pulang tak diantar. Dulu aku pengen punya kakak laki-laki sekarang sudah terwujud, malah tidak perlu repot-repot ibu melahirkan lagi ternyata sudah dikasih langsung yang besar. Tuhan memang hebat!!!
            Jangan lupakan sejarah (Sehari Jadi Parah). Tiap aku pulang ke Semarang, jadi parah gaya bercandaku gara-gara timbal balik dari Mas Bro. Karena suntuknya bekerja di Jepara, membuat topik bercanda semakin menjadi-jadi. Itulah beruntungnya punya Mas Bro yang satu visi dan misi denganku tampil awet muda. Tiap buka kulkas nyari jelly dingin buatan ibu yang nyeessss itu, terus minta disuapin dengan syarat naik sepeda mungilnya Fadil sambil sorak-sorak. Akhirnya, kamu mau makan racun di rumah kami, bukan racun tikus atau racun serangga, tapi racun cabe. Karena keluarga kami suka makanan pedas, dan ternyata Mas Bro ketagihan oseng-oseng genjer (baru dengar dari ibu).
            Terima kasih aku ucapkan khusus buat Mas Bro, berhubung Mas Bro sudah wisuda lalu nantinya akan sibuk bekerja serta tidak lagi tinggal bersama kami. Kami berharap Mas Bro tetep pada visi misinya tampil awet muda. Pasti rumah kami akan sepi dan sampai saat ini kami belum menemukan pengganti Mas Bro. Terima kasih sudah berperan menjadi saudara, kakak, om, sahabat bagi kami. Maaf jika keluarga kami ada salah lisan maupun tulisan. Kalau kesalahan tulisan sepertinya aku yang sering kena, karena sudah meng-upload di blog pribadiku tanpa ijin dulu. Tapi aku kira tidak masalah, karena Mas Bro hobby ngeksis di social network yang beraneka ragam, seperti facebook, twitter, whatsapp, blog, yahoo messenger, gmail, dll.

**Aku terbangun pukul 01.13 WIB dan setelah menunaikan sholat tahajud tiba-tiba aku ingin menulis sesuatu. Jika ada salah ketik mohon dimaafkan , tapi sepertinya aku tidak sedang mengelindur walaupun kondisi mataku terbuka ¾ tanpa kaca mata. Aku tulis ke word sebelum di upload pada blog**

           

            

Kamis, 11 Juli 2013

JAMBI ISTIMEWA

Mengenai Provinsi Jambi

      Jambi adalah salah satu provinsi di Pulau Sumatera, terletak di tengah pesisir timur tepatnya. Dengan nama ibu kotanya yang sama persis dengan nama provinsinya, tak heranlah memudahkan masyarakat mengenal dan menghafal provinsi ini. Provinsi Jambi secara geografis terletak antara 0,45° Lintang Utara, 2,45° Lintang Selatan dan antara 101,10°-104,55° Bujur Timur. Di sebelah Utara berbatasan dengan Provinsi Riau, sebelah Timur dengan Selat Berhala, sebelah Selatan berbatasan dengan Provinsi Sumatera Selatan dan sebelah Barat dengan Provinsi Sumatera Barat dan Provinsi Bengkulu. Luas Provinsi Jambi adalah 53.435 km2, ditambah dengan masyarakatnya yang heterogen, terdiri dari masyarakat asli Jambi, yakni Suku Melayu yang menjadi mayoritas di Provinsi Jambi. Selain itu juga ada Suku Kerinci di daerah Kerinci dan sekitarnya yang berbahasa dan berbudaya mirip Minangkabau. Secara sejarah dan budaya merupakan bagian dari varian Rumpun Minangkabau. Juga ada suku-suku asli pedalaman yang masih primitif yakni Suku Kubu dan Suku Anak Dalam. Adat dan budaya mereka dekat dengan budaya Minangkabau. Selain itu juga ada pendatang yang berasal dari Minangkabau, Batak, Jawa, Sunda, Cina, India dan lain-lain.
Nah, sekarah kalian sudah sedikit mengenal provinsi ini kan? Setidaknya dapat memberi informasi bagi kalian semua jika ingin pergi ke sini. Sebetulnya itu adalah permulaan alias pendahuluan saja, karena aku akan menceritakan keistimewaan provinsi ini melalui cerita pengalamanku lewat Trip to Jambi.

Trip to Jambi

          Pada 21 Juni 2013 lalu, keluargaku berencana pergi ke rumah Om Arif yang sudah tinggal selama 11 tahun di Jambi. Tak ada niatan untuk ikut awalnya, karena tanggal 23 Juni 2013 akan ada acara perpisahan Kepala Sekolah tempat aku mengajar. Dilema memang, tapi ketika aku bertanya pada diriku, inginku mencari sesuatu yang baru di sana, meninjau tentang hobbyku yang suka traveling dan backpakeran. Sehari sebelum hari keberangkatan, tepatnya 20 Juni 2013, Om aku yang bekerja sekantor denganku mengatakan, bersedia akan mengijinkan ke kepala sekolah jika aku berencana ikut. Akhirnya, hari itu juga aku pulang ke Semarang dan menelpon Bapak agar dipesankan tiket perjalanan via Bus.
           Pukul 18.00 WIB, kami (Bapak, Aku, Nenek, dan Adik) berangkat menuju ke pool Bus Ramayana di daerah Terminal Banyumanik, Semarang. Kala itu, harga tiket Rp 340.000, 00 (Bus VIP), lumayanlah bila dibanding naik pesawat. Nah...bagi yang suka menikmati perjalanan beberapa hari, alangkah cocoknya jika bepergian naik bus hehehehe....
            Seharusnya jika tepat waktu, pada 22 Juni 2013 sebelum matahari terbit, bus yang kami tumpangi sudah siap menyebrang dari Pelabuhan Merak, Jawa Barat. Akan tetapi, apa daya jika kemacetan mengambil alih, kemacetan terjadi di Tegal dan Indramayu akibat perbaikan jalan, total perjalanan kami tertunda selama 12 jam. Ditambah lagi pada saat itu, terjadi penumpukan kendaraan bermotor yang mengantri di SPBU karena dampak dari kebijakan pemerintah untuk menaikkan harga bahan bakar minyak.
             Antrian kendaraan kembali terjadi di pintu tol Cikampek, perjalanan kami pun terhenti selama 2 jam. Setelah itu, kembali lancar hingga memasuki Pelabuhan Merak. Kami pun menyebrang Selat Sunda pukul 16.30 WIB pada tanggal 22 Juni 2013.
                Aku pun segera naik ke kabin Kapal dan melihat pemandangan, pertama hanya terhampar lautan yang tenang tanpa ombak. Tak ada yang istimewa di hipotesa awalku, tapi setelah aku berjalan menuju ke bagian depan kapal, terlihat jelas matahari menyemburkan cahaya jingga dan terlihat hijau jambrud pulau kecil, tak lama kemudian Gunung Krakatau melambaikan keindahannya agar orang-orang melihatnya takjub,
Subhanallah.....! Indah sekali....!
Adzanpun berkumandang dan sebentar lagi ujung Pulau Sumatera akan terlihat. Tepat pukul 18.45 WIB kapal merapat di Pelabuhan Bakaheuni. Kami melanjutkan perjalanan di malam hari. Tapi, disepanjang perjalanan, restorant yang kami singgahi, kebanyakan menghidangkan makanan bersantan, daging dan ikan, masakan padang rata-rata, sehingga jarang kami jumpai menjual sayur seperti di Jawa dan rata-rata dibandrol dengan harga Rp 25.000,00 s.d. Rp 40.000,00, ga cocok untuk orang yang pergi ala backpacker. Ada baiknya jika sebelum berangkat menyiapkan kebutuhan logistik, seperti membawa lauk dari rumah sehingga cukup hanya membeli nasi putih saja, atau membawa mie instan cup.
Kami melewati Lampung dan Palembang sebelum ke Jambi, Kemacetan terjadi lagi di Lampung, lagi-lagi karena perbaikan jalan. Sepanjang perjalanan, tepatnya di Kabupaten OKU, aku menjumpai rumah-rumah dibangun berarsitektur kayu dan panggung. Kanan kiri selang seling terdapat kebun kelapa sawit dan karet. Pukul 16.00 WIB tanggal 23 Juni 2013, kami tiba di Jambi. Alhamdulillah.

Jambi Istimewa

              Akhirnya, bisa beristirahat juga, setelah 3 hari 2 malam duduk di dalam bus. Keesokan harinya, Senin, 24 Juni 2013, kami melanjutkan perjalanan melihat-lihat provinsi Jambi. Provinsi Jambi terbagi menjadi 11 Kabupaten yaitu Kabupaten Batang Hari, Kabupaten Bungo, Kabupaten Kerinci, Kabupaten Merangin, Kabupaten Muaro Jambi, Kabupaten Sarolangun, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Kabupaten Jabo, Kota Jambi, dan Kota Sungai Penuh. Berhubung tempat tugas saudara berada di Tanjung Jabung Barat yang beribu kota di Kuala Tungkal, maka pukul 06.00 WIB kami berangkat, perjalanan ditempuh selama 1,45 jam dari kota Jambi. Jalan menuju ke Kuala Tungkal, kondisinya sepi dan mayoritas beraspal bagus, masih banyak dijumpai kebun kelapa sawit sebagai sumber perekonomian terbesar . Tiba di sana, kami beristirahat  sebelum melihat-lihat isi Kota Kuala Tungkal pada sore hari.
           
Demografi Kabupaten ini terletak di muara, lautnya berwarna coklat susu, memiliki pelabuhan banyak, dan mayoritas hasil perekonomian dari tangkapan laut. Aktivitas teramai hilir mudik kapal nelayan dan kapal barang menuju ke Riau.
Kontur tanah rawa, menjadikan tempat tinggal di sini memakai rumah panggung. Masih ditemui pohon rumbia, pohon kelapa dan tumbuhan rawa lainnya.


        
Memang, mayoritas arsitektur rumah di Kuala Tungkal memakai  dinding kayu tetapi ada juga yang telah bertembok, tetapi uniknya meskipun bertembok bagian bawah atau pondasi rumah memakai pengganjal layaknya rumah panggung, terlihat seperti gambar di samping ini. Kebanyakan beratapkan seng.
Informasi yang didapatkan dari warga setempat, rumah di sini memakai kayu karena intensitas munculnya petir lebih banyak dengan kapasitas skala kategori sering baik ketika hujan ataupun tidak, sehingga cenderung mengakibatkan kebakaran. Hal ini mengingatkan bahwa sifat kayu sebagai isolator panas, dapat menghambat panas dan arus listrik.

Keeksotisan Kuala tungkal tak berhenti di sini saja, ekosistem di sini masih dalam karegori baik, masyarakat yang berpadu dengan alam. Habitat yang masih hijau menjadikan tempat tinggal yang nyaman bagi  hewan primata. Foto ini diambil ketika menuju ke pelabuhan, tanpa aku sengaja melihat primata ini asik bercanda dengan koloninya di beberapa pohon. Hehehehe....... petualangan banget....! Jarang-jarang liat objek langka.....


Pelabuhan dibangun dengan apik dan jumlahnya tidak hanya satu, hal ini disesuaikan dengan fungsinya, lebih dari 20 kapal berlabuh setiap harinya di dermaga. Tak hanya itu, pelabuhan di sini layaknya tempat wisata masyarakat Tungkal. Aktifitas terpadat di jumpai di sini. Ditambah pusat perdagangan seperti pasar, rumah makan, tak jauh dari area pesisir dekat pelabuhan. Tapi sayangnya kesadaran masyarakat setempat akan pentingnya kebersihan masih kurang. Banyak dijumpai sampah-sampah organik maupun anorganik, limbah rumah tangga atau limbah ikan di buang sembarangan. Bahkan dikolong rumah panggung banyak sampah berserakan. Tak hanya itu, sampah-sampah juga dibuang di laut. Arus laut di sini sangat kuat, itulah mengapa dimanfaatkan masyarakat untuk menghanyutkan sampah. Walaupun demikian, itu tidak patut dicontoh, lebih baiknya jika dibangun TPA (tempat pembuangan Akhir) yang memadai. PR dech bagi Pak Bupati Tanjung Jabung Barat ! Semangat Paaaaaakkkkk!
Transportasi nih....! Hey hey hey.... mengapa di Jambi tidak ada taxy? heheh....
Selama di Jambi memang sama sekali tidak menemukan taxy dan sedikit ditemui bus kota. Tetapi di sini ada angkutan umum, itupun khusus di ibu kota provinsi. Oleh karena itu, jika ingin berjalan-jalan melihat-lihat isi kota sambil olah raga, ada baiknya nih pake sepeda. Tapi persiapkan stamina karena jalan di sini naik turun. OK!

Sepeda seperti itu banyak dijual di Jambi, modelnya pendek dengan tempat duduk yang dapat ditinggikan. Sepeda itu juga banyak saya temui di jual di Kuala Tungkal, harga sekitar 1 jutaan sampai 5 jutaan lebih. Barang diambil dari Singapore. Mana nih barang buatan Indonesia asli ya..... hehehe

Lima Hari berada di Kuala Tungkal, akhirnya kembali ke Kota Jambi, tempat wisata yang terakhir di kunjungi adalah Ancol, Pinggiran Sungai Batang Hari. Ancol mirip dengan pujasera untuk tempat nongkrong anak muda, banyak penjual jagung bakar dan minuman instan dijajakan di sini, ada juga es tebu. Cuma bedanya tebu yang akan dibuat minuman dikupas kulit hitamnya, sehingga airnya berwarna hijau pupus, itu sangat kontras bedanya dengan yang ada di Semarang. Tebu di Semarang tidak dikupas kulitnya, sehingga airnya berwarna coklat dan rasa air tebu lebih manis yang ada di Jawa.
Cuma yang mengganggu pemandangan adalah sampah di pinggir Sungai Batang Hari. Sayang sekali loh! kerena Sungai Batang Hari (atau Sungai Hari) adalah sungai terpanjang di pulau Sumatera sekitar 800 km, kalau dikotori bakal tidak indah lagi. Dijumpai aktivitas pengerukan dan pertambangan yang dapat memicu rusaknya sungai ini. Sungai ini terlihat jernih sebetulnya, tapi sayang kan kalau dikotori, coba lihat pantulan cahaya Matahari, indahkan? Sungai Batang Hari dimanfaatkan sebagai sumber air minum, PDAM, perikanan, pertanian, dan sarana transportasi oleh masyarakat Jambi. Tak Khayal jika identik dengan Provinsi jambi, bahkan Kode Plat nomor kendaraan provinsi ini memakai BH (Batang Hari).  
Dua minggu kuhabiskan di Provinsi jambi, luar biasa yang di dapatkan. Sumatera tak selamanya terbelakang, seperti yang dibayangkan dalam benakku, tapi disisi lain menyimpan keistimewaan. Di sini juga ada pusat perbelanjaan, alun-alun tempat wisata, pasar induk, dan lain-lain. Tapi kesimpulan yang di dapat adalah Langit Pulau Sumatera sama indahnya dengan langit Pulau Jawa. Langit Indonesia tak kalah indah dari langit negara lain. Inilah perjalanan,....
Saatnya come back to Java. Minggu, 7 Juli 2013.... Good bye Jambi. I will back, I'm promise!

Rabu, 22 Mei 2013

ANTOLOGI GEGURITAN : BEBRAYAN IKU MASYARAKAT

 SAPERANGAN GEGURITAN
Seratan punika awujud karya saking siswa-siswa kelas 7 G ing salah setunggaling SMP wonten ing tlatah Jepara. Pancenipun boten sedaya seratan saged kula lebetaken wonten Blog niki, amergi kathah sanget. Pramila kedhah dipunpilih, mbok menawi wonten kalodhangan malih, benjing badhe kula serat sedaya. Geguritan punika, kasil saking sinau nyerat. Babagan punika jebulipun awrat sanget, siswa kathah ingkang kangelan anggenipun ngandharaken manahipun dados rerangkening tetembungan basa Jawa. Sekedhik baka sekedhik mugi-mugi tansah sae. Amin,
(tulisan ini berupa karya dari siswa-siswa kelas 7 G, salah satu SMP di Jepara. Memang tidak semua tulisan bisa saya masukkan ke blog ini, karena banyak sekali, maka harus dipilih, kalaupun ada kesempatan lagi, besok bisa saya tuliskan semuanya. Puisi ini, hasil dari belajar menulis. Masalahnya ternyata rentan sekali, banyak siswa yang kesusahan mengungkapkan pikiran menjadi untaian kata-kata ke dalam bahasa Jawa. Sedikit demi sedikit nantinya bisa lebih bagus lagi. Amin)

Seratan: Nur Hidayah (B)/ 7 G

WONG PINTER
Yen kepengin dadi wong pinter iku kudu sinau
Wong-wong padha golek elmu sing bener
Yen golek elmu kang ora bener
Iku wong sing rasa-rasa sinau
Yen sinau iku aja padha geger
       Yen geger iku ora bisa mlebu
       Nanging ana wong padha rasa-rasa sinau
       Guruku wis padha menehi panyurung marang murid
       Yen murid kepengin pinter
       Iku kuncine padha sinau

Seratan: Ahmad Riyansyah/ 7 G

PETANI
Panas-panas nandur pari
Udan-udan kanggo ngopeni pari
Pari iku kanggo kabutuhane kulawarga
      Direwangi isuk lan sore kanggo ngopeni pari
      Dadi petani iku ora gampang
      Yen wayah rendeng pari bisa ora dadi
      Akibate kabutuhane manungsa ora imbang
      Lan akibate menungsa ora ngrasa makmur
      Iku resikone dadi petani

Seratan: M. Khoirul Ghofar/ 7 G

PAK TANI
Owah-owah nandur pari kang suwe
Panas kepanasen
Udan-kudanen
Namung iku kabeh ora diwedeni
Pari bisa diolah dening kita kang aran beras
Jasamu gedhe banget
Matur nuwun Pak Tani

Seratan: Baharudin Yusuf Ali/ 7 G

WONG ANGON
Saben dina aku makani wedhusku
Saben pajar aku nggiring wedhusku
Saben sore nggiring wedhusku ing kandhang
Srengenge padhang ning dhuwurku
Aku ora dhuwe wong tuwa kawit umurku 2 taun
Aku pengen sekolah nanging ora dhuwe dhuwit
Kanca-kanca padha madoni aku
        Aku pengen nyekolahna adhiku
        Aku dadi punjering kulawarga
        Ya... Allah muga-muga adhiku dadi wong sukses....
         Amin

Seratan: Nur Faiqoh/ 7 G

IBU
Ibu dudu widadari
nanging kanugrahan
Nularake daya kapinteran ing kulawarga
Nularake welas asih ing bale wisma
Gawe adhem ayem, lan tentrem swasana
Matur nuwun Ibu....

Seratan: Deni Wahyudi/ 7 G

PENGAMEN
Saben dina kowe mlaku ing dalan
Luru dhuwit nganggo mangan kulawargamu
Ngamen saben bis ing bis liya
Ora entuk kesel nanging wis kesel
Jasamu gedhe banget nganggo kulawargamu
Kulawargamu mesti bangga karo kowe...

Seratan: Wisnu Wahyu/ 7 G

WONG KERE
Yen Kepengin dadi wong sugih
Kowe kuwi kudune kerja
Sing sregep...
Yen ora gelem kerja
Ora bisa dadi wong sugih
Yen ora kerja...
Anak lan bojomu arep mangan apa???
Lan anakmu ora bisa sekolah maneh.

Seratan: Tri Ariyanti/ 7 G
KELASKU
Kelasku...
Kelas kang bagus, resik lan apik
Saben dina tak sapu lan tak pel
Meja-meja  padha ditata
Tembok kelas dicet werna padhang
        Lukisan-lukisan kang apik banget
        Angin kang sumilir lewat
        Rasane kepenak banget
        Gawe atiku adhem tenan
        Oh... kelasku....

Seratan: Lailatul Fitiyani/ 7 G

JEPARA
Jepara...
Kowe kutha kang endhah
Kowe bisa disebat kutha ukir
Kutha kang nglairake aku
Lan kowe kutha gedhe
       Jepara...
       Kowe dhuwe pariwisata kang akeh
       Pariwisata pante lan museum
       Aku bakal trus eling kuthamu
        Lan aku ora bakal bisa nglalekake kuthamu

Seratan: Saiful Bahri/ 7 G

GURU
Guru jasamu gedhe banget
Guru kang ngulang murid tanpa nggresula
Kang saben dina sabar
Kareben muridmu padha pinter
Saben dina murid mangkat esuk
       Mengkono iku dikanggokake ngluru elmu
       Guru kang setya marang murid
       Supaya murid dhuwe rasa semangat
       Guru... panjenengan kados dene Ibuku
       Kados dene ibu kang ngajari sopan santun
       Guru aku tansah seneng marang sliramu
       Lan jasamu ora bisa taklalekake
       Sabarmu ora bakal tak liwati
       Matur nuwun Ibu Guru....

Seratan: Sri Susanti/ 7 G

BEBRAYAN IKU MASYARAKAT
Manungsa urip ing donya iku kudu bisa sasrawungan
Yen karo sapadha kudu apik
karo sadulur ing masyarakat kudu apik
Sakdurunge aku ing masyarakat
kudu ngerti....
Aja seneng sing resek-resek
Supaya yen dingeti apik lan tumata
          Aku seneng ing masyarakat
          Ing Masyarakat bisa musyawarah
          Lan bisa guyub rukun, tulung tinulung
          bareng-bareng...
          Aku iki kalebu masyarakat